Sukses Menjadi Murobbi (Part 2)

Assalammualaikum Wr Wb…
Nah....masih semangat pagi sob,,,,sesuai janji ane, ane bakalan ngelanjutin bahasan tentang aa-apa aja sih tips selanjutnya yang membantu menjadi Murobbi sukses...??? langsung aja dah…gak usah basa-basi, entar keburu jadi bubur…(lah enak dong buat sarapan..hha)

2. MENINGKATKAN KREDIBILITAS DAN WIBAWA

Nah kalau dipostingan sebelumnya ane sudah jelaskan tentang tips dalam mempersiapkan diri sebelum mulai mengisi halaqah, selanjutnya ialah giman nih tips buat meningkatkan kredibilitas dan wibawa kita didepan mad’u?? Eh tunggu dulu…apa itu kredibilitas? Terus maksudnya wibawa juga apaan..???
Silahkan cari dikamus dah…..hahhah

  ·     Tambah pengetahuan anda
Sebagai murobbi, kita jangan seperti jalan yang dilalui kendaraan dong, lah…kenapa emang?? Artinya, kita hanya dilalui mad’u aja….lho kok bisa?? karena pengetahuan kita tertinggal dibandingkan mad’u. Mungkin pada awal halaqah, mad’u terkagum-kagum dengan pengetahuan kita, tapi lama kelamaan hati-hati lho…kekaguman itu bisa hilang! Nah loh…
Tanya kenapa? Karena pengetahuan kita tidak bertambah… So akibatnya tuh Mad’u hanya mendapatkan pengetahuan yang sama dari waktu ke waktu. Itu-itu lagi…itu lagi..Ah bosan! terlalu monoton. Kalau udah begitu bias-bisa nih ya  ia akan lari dari kitaa untuk mencari murobbi lain yang pengetahuannya lebih tinggi….Nah awas lho kalah pinter ntar ahhahaa
So, Kita musti menambah terus menerus pengetahuan kita, kalau gak mau tuh ditinggalin sama mad’u (seperti jalan yang dilalui kendaraan)….#SakitnyaTuhDisini….:-(. Banyaklah membaca, berdiskusi, mengikuti seminar, menghadiri forum-forum majelis ilmu, dan lain-lain. Pokoknya tambahlah pengetahuan kita dalam berbagai bidang, terutama bidang agama dan sosial…

·        Tambah pengalaman anda
Idealnya adalah semakin tinggi “jam terbang” kita sebagai murobbi, semakin ahli dong kita membina. Karena pengalaman sangat dibutuhkan dalam membina. Untuk mengakselarasi pengalaman kita (udah kaya sekolah aja…), sering-seringlah membaca buku tentang cara membina halaqah (seperti baca buku yang saya sebutkan diatas, misal) dan sering-seringlah berdiskusi antar sesama murobbi untuk tukar menukar pengalaman.
Nah yang paling penting adalah, kalau kita pernah gagal membina, jangan kecewa. Ya…anggap aja itu sebagai pengalaman berharga. Pelajari apa sih yang bikin gagal? Jadi bisa untuk bekal membina di kemudian hari… So cobalah terus membina walau sering gagal. Hindari rasa putus asa….:-D

·        Katakan tidak tahu, jika memang tidak tahu 
“…Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” (QS. 33 : 72).
Kalau mad’u bertanya, terutama tentang hukum agama, yang kita sendiri tak tahu jawabannya, maka katakan saja secara jujur bahwa kita tak tahu. Jangan sok tau deh….heheh entar malah sesat lagi, kan berabe dah. Hal itu sama aja menjerumuskan mad’u pada pengetahuan yang salah. Nah selain itu juga, kalau suatu ketika ia tahu jawaban kita itu salah, udah pasti kredibilitas kita di matanya akan jatuh. Gak menuntut kemungkinan tuh lain kali, ia akan ragu-ragu dengan jawaban kita terhadap pertanyaan lain, walau jawaban itu benar. Tsiqoh (kepercayaan)nya kepada kita juga bisa goyah gara-gara “sok tau” tadi…heheh 
Jadi kalau kita menjawab jujur bahwa kita gak tahu, dan akan berusaha mencari tahu jawabannya, maka hal itu tidak akan menjatuhkan wibawa Anda. Justru mereka akan simpati pada kita, karena kita jujur dan gak “sok tau”.

·        Jangan terlalu banyak bercanda
Murobbi itu mestinya dikesankan oleh mad’unya sebagai orang yang serius. Kesan serius harus melekat pada diri murobbi, karena murobbi adalah pejuang Islam. Hati-hati loh…serius bukan berarti misterius..apa lagi ngeri kaya kus-kus hehhe. Agar tampak serius, murobbi jangan terlalu banyak bercanda dengan mad’unya, baik di dalam atau di luar halaqah. Sebab hal itu akan memberi kesan sebaliknya, kesan sebagai pelawak, bukan pejuang Islam…Gak lucu kan kalau kita tiba-tiba diminta mad’u untuk stand up comedy??
Tapi lagi-lagi, jangan sampai kita dikesankan mad’u sebagai orang yang terlalu serius, bahkan mungkin kaku dan angker…ooo seraaammm!! Kita perlu dikesankan juga oleh mad’u sebagai orang yang ramah dan supel. So, bolehlah sesekali kita bercanda dengan mad’u. Bercanda itu ibarat garam dalam makanan. Perlu ada, tapi jangan terlalu banyak….entar asin, terus darah tinggi dah..hahha

·        Hapal beberapa ayat/hadits “favorit”
Anda ingin menjadi murobbi yang tampak kompeten??? Nah hapalkan tuh  sebanyak mungkin  ayat dan hadits. Namun, kalau kita memang tak punya waktu untuk menghapal banyak ayat dan hadits, hapalkan aja beberapa ayat dan hadits “favorit”.  Apaan??? Bias jadi ayat dan hadits yang sifatnya umum dan sering diungkap orang. Misalnya, surah 21 : 107, 3 : 85, 2 : 120, 2 : 108, hadits arba’in, dan lain-lain….
Dengan menghapal ayat dan hadits “favorit” serta sering menyebutkannya di hadapan mad’u, kita akan tampak lebih kompeten…hehhe Nah kekurangan kita yang hanya hapal sedikit ayat/hadits akan tertutupi. Mad’u tak tahu bahwa kita sebenarnya hanya punya hapalan yang itu-itu saja. Tapi tetep lho ya musti ada motivasi dari diri kita untuk menambah hafalan-hafalan lainnya…karena sebenarnya menjadi murobbi itu bias sebagai control diri kita sendiri,,”Gimana kita mau mencetak generasi unggul kalau kita sendiri aja gak unggul, bener gk??”

·        Berikan informasi eksklusif
“..Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman” (QS. 61 : 13).
Nah salah satu cara agar kita cepat dipercaya mad’u adalah dengan memberikannya informasi yang menurutnya eksklusif (istimewa). Informasi eksklusif ini misal berupa informasi yang jarang diekspos media massa, atau informasi yang diekspos media massa tapi kita mendapatkan informasi “bocoran” yang berbeda, informasi tentang diri kita yang belum banyak diketahui orang lain, (ini mah buka kartu dewe dong..hihi) dan informasi tentang rencana kita terhadap halaqah atau terhadap diri mad’u….
Dengan memberikan informasi ekslusif itu, mad’u akan merasa dipercaya oleh kita, sehingga ia pun akan percaya dengan kita. Nah dari kepercayaan itu, ia akan lebih terbuka menyampaikan permasalahannya kepada kita, so kita dapat lebih cepat dan tepat memahami mad’u….Kena deh!!! :-D
Next!

·        Jangan mau dibayar
“Kalau bukan karena murid, guru tidak akan mendapatkan pahala. Oleh karena itu, janganlah Anda meminta upah kecuali dari Allah ta’ala, sebagaimana firman Allah mengisahkan Nuh as, “Wahai kaumku. Aku tidak meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanya dari Allah” (QS. 11 : 29) (Imam Al Ghazali).
Murobbi beda dengan penceramah (ustadz). Kalu murobbi berperan sebagai pembina (orang tua, sahabat, guru, dan pemimpin) bagi mad’u, penceramah lebih berperan sebagai guru (ustadz) aja. Hubungan murobbi dengan mad’u sangat dekat dan berlangsung lama. Sebaliknya hubungan penceramah dengan mad’u jauh, bahkan mungkin tidak saling mengenal, dan sifatnya sementara. Karena itu, penceramah boleh mendapat honor ceramah. Sebaliknya, murobbi tidak boleh! Tanya kenapa?? Kalau murobbi menerima bayaran (honor) dari mad’u dapat dipastikan sikapnya akan sulit obyektif dan sulit bersikap asertif kepada mad’u. Jika mad’u berbuat salah, ia akan sulit bersikap tegas karena kuatir mad’u tersinggung dan “mogok” membayar. Sebaliknya, mad’u juga akan meremehkan murobbi karena merasa membayarnya. Jika ditegur murobbi, mungkin ia berkata (dalam hati), “urusan apa anda menegur saya. Bukankah kamu saya yang bayar?”, Nah lu…berabe dah urusannya…L
Lagi nih ya, kalau murobbi dibayar, hubungan murobbi sebagai qiyadah (pemimpin dakwah) dan mad’u sebagai jundi (tentara dakwah) juga akan sulit terealisir. Karena hubungan mereka bukan berdasarkan kesadaran dan keikhlasan untuk mengikat diri dalam amal jamai’ (aktivitas bersama), tapi berdasarkan pamrih (membayar dan dibayar). So kembali lagi ke yang pernah ane jelasin sebelumnya…kembali lurusin niat dah…

·        Berikan keteladanan dengan kesederhanaan
Keteladanan adalah cara ampuh mempengaruhi orang lain. So, jadikan keteladanan sebagai senjata utama mempengaruhi mad’u. Dari sekian banyak keteladanan yang perlu kita lakukan, maka sikap sederhana merupakan pilar utamanya. Why??? Sebab sikap sederhana sangat efektif untuk membuat orang menaruh rasa hormat kepada pelakunya. Sebaliknya, kalau bermewah-mewahan akan membuat orang iri dan benci kepada pelakunya…..#Mikir

·        Hati-hati dalam berpendapat 
Hati-hati loh dalam berpendapat, sebab suara kita itu sangat diperhatikan mad’u. Apalagi kalau mad’u udah tsiqoh (percaya) sama kita. So, sebelum berpendapat, pikirkan dulu dengan matang apa yang akan kita utarakan itu, gimana dampaknya terhadap mad’u. Jangan asal ceplas ceplos aja kaya bajay gak ada rem nya. Hal ini berbahaya, jika pendapat kita salah. Pendapat yang salah, bukan hanya mengurangi kredibilitas kita sebagai murobbi, tapi juga dapat menjerumuskan mad’u pada kesalahan.
Contoh nih, mad’u bertanya kepada kita tentang bagaimana sikap kita terhadap orang kafir. Lalu kita dengan tegas mengatakan bahwa mereka harus dimusuhi. Mad’u akan mengambil pendapat kita sebagai pegangan baginya dalam pergaulan. Setiap bertemu orang kafir ia akan memusuhinya. Padahal tidak semua orang kafir perlu dimusuhi. Kan ada kriteria dan batasannya…tapi karena kita tidak merinci pendapat kita ketika mad’u menanyakannya, mad’u menerapkannya untuk segala situasi, Nah Loh….
Dalam kasus lain, kalau kita ragu-ragu dengan pendapat kita sendiri, sampaikan hal itu kepada mad’u so ia tahu bahwa pendapat kita itu belum final. Atau katakan padanya dengan pendapat yang global. Tidak terlalu spesifik. Misalnya lagi nih, mad’u bertanya tentang siapa sebaiknya yang menjadi pembicara dalam seminar yang diadakan oleh halaqah. Eh kebetulan kita tidak tahu atau ragu menunjuk siapa nama yang cocok untuk seminar tersebut, maka katakan padanya bahwa pembicaranya bisa siapa saja yang penting cocok dengan tema seminar tersebut. Jawaban yang global ini untuk menjaga agar kita tidak disalahkan oleh mad’u, jika kelak pendapat kita ini ternyata salah atau kurang tepat.

·        Manfaatkan keterampilan khusus Anda
Anda bisa menyanyi? Atau ahli berpantun ria? Melukis? Melawak? bermain sulap? menulis atau melakukan hal-hal yang unik? Nah kalau kita memiliki keterampilan khusus (yang tidak bertentangan dengan syar’i) seperti itu, gunakan tuh untuk menarik perhatian mad’u…. Misal, kalau suara kita merdu, mengapa tidak menyanyi nasyid atau bersholawat di tengah-tengah penyampaian materi kita? Gak ada salahnya kok…Hal itu bukan saja menjadi selingan yang menarik, tapi juga dapat menggugah kesadaran mad’u lebih baik lagi. So, carilah dan manfaatkanlah kelebihan khusus yang kita miliki untuk menambah kredibilitas dan menarik simpati mad’u.

·        Jaga bau badan Anda
Pernah gak kita berdekatan dengan orang yang bau badannya nggak enak? Gimana tuh rasanya? terganggu bukan? Bahkan bisa ngerusak konsentrasi. Nah….kalau yang bau badan itu adalah kita sebagai murobbi, bagaimana dampaknya bagi mad’u?
Di dalam halaqah, bau badan akan lebih cepat tercium karena jaraknya berdekatan. Akibatnya Mad’u akan sulit konsentrasi kalau bau badan kita tidak enak (apalagi menyengat)….hiiiii Ia juga akan menilai kita sebagai orang yang kurang peduli terhadap kebersihan. Bahkan lebih jauh ia bisa menilai kita jarang mandi!!!! Hhaaaa kaya kebanyakan antek dong (Anak Teknik) hhaaa LOL

·        Hati-hati dengan bau mulut Anda
Selain bau badan, mulut juga perlu dijaga agar tidak mengeluarkan bau yang tidak sedap. Mulut yang bau akan membuat mad’u enggan berdekatan dengan kita. Apalagi kita bakalan banyak nyerocos tuh selama mengisi materi halaqah…Bau mulut juga menujukkan ketidakpedulian kita terhadap kesehatan dan kebersihan.
So, jagalah bau mulut kita agar terhindar dari bau yang tidak sedap dengan menggosok gigi, memakai obat pengharum mulut dan memperhatikan apa yang kita makan…..Ok???

·        Jangan banyak mengeluh di depan peserta (selalu terlihat optimis)
Kalau kita terlihat sering mengeluh di depan mad’u, maka mereka akan pergi dari kita. Orang tidak suka dengan mereka yang suka mengeluh. Baik mengeluh tentang keadaan dirinya, orang lain, atau situasi sekitarnya. Misal nih, mengeluhkan tentang keadaan dirinya yang banyak kekurangan, mengeluhkan tentang orang lain yang menyakiti dirinya, mengeluhkan kondisi sekarang yang sulit mencari uang, dan lainlain…Oh No..!!!
Ingat! kita adalah murobbi, yang ingin merubah orang lain ke masa depan yang lebih baik. Sebelum kita merubah orang lain ke arah yang lebih baik, kita sendiri harus optimis bahwa masa depan kita itu lebih baik. Optimis juga bahwa apa yang kita bawa (dakwah) juga akan sukses.

·        Penuhilah janji Anda
“..sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungan jawabnya” (QS. 17 : 34).
Penuhilah janji kita, kalau punya janji. Kalau kita melanggar janji berarti kita melakukan “penarikan”. Maksudnya, kita akan membuat mad’u kecewa dan tidak simpati kepada kita lagi. Inget kan ciri-ciri orang munafik…??

·        Jangan menjelek-jelekkan mad’u di depan mad’u lain
“Tahuah kalian apa itu ghibah?’ Mereka menjawab, Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Nabi saw bersabda: “Kamu menyebut saudaramu dengan hal yang tidak disukainya.” Ditanyakan, “Bagaimana jika apa yang aku katakana itu ada pada diri saudaraku itu?” Nabi saw menjawab: “Jika apa yang kau katakan itu ada pada dirinya maka sungguh kamu telah meggunjingnya, dan jika tidak ada pada dirinya maka sungguh kamu telah menyebutkan hal yang dusta tentang dirinya” (HR. Muslim).
Kalau kita merasa kecewa atau kesal dengan mad’u, maka jangan kita jelek-jelekkan ia di depan mad’u lain. Misalnya, ketika ia tidak hadir di halaqah, kita mengaitkan ketidakhadirannya dengan perilakukanya yang tidak kita senangi. Anda menyampaikan hal itu di depan halaqah. Jangan…! Mad’u yang dijelek-jelekkan menjadi antipati terhadap kita. Mad’u yang mendengar kita menjelek-jelekkan mad’u lain juga akan merasa murobbinya suka ghibah. Mereka akan berpikir bahwa jika mereka tidak disenangi murobbi pasti akan diperlakukan sama dengan dijelek-jelekkan di depan mad’u lain. Jika mad’u yang mendengar kita mengghibah mad’u lain setuju dengan pendapat kita, mereka akan menjaga jarak dengan mad’u tersebut. Akhirnya, hubungan antar mad’u menjadi renggang. Hubungan kita dengan mad’u yang kita jelek-jelekkan juga menjadi kurang harmonis….udahhh bakalan gak lama lagi bubar dah kalau udah gitu mah….
So, Kalau kita kurang suka dengan perilaku mad’u, lebih baik dekati ia, lalu bicarakan ketidaksukaan itu secara empat mata dengannya. Hal ini lebih baik dampaknya dan lebih membuat mad’u respek dengan Anda. 

·        Jangan suka mengumbar kemarahan
Murobbi yang baik adalah murobbi yang tidak mengumbar kemarahan. Ingat!! kita bukan mandor bos…yang tugasnya ngomel melulu. Tapi inget kita adalah pembina yang mengajak orang lain ke arah Islam. Seorang pembina tentu saja perlu mendidik anak didiknya secara lemah lembut dan tanpa paksaan. Lebih suka menggunakan bahasa sindiran atau pertanyaan, jika menegur, daripada mengumbar kemarahan.
Mengumbar kemarahan hanya akan membuat kita tampak tak berwibawa di hadapan mad’u. Selain itu juga mencerminkan kekerdilan jiwa. Jika pun ingin marah, marahlah dengan bahasa non verbal (bahasa tubuh), misalnya dengan wajah yang memerah, pandangan mata yang menunjukkan ketidaksenangan, atau tangan yang terkepal. Bersamaan dengan itu, bahasa verbal Anda tetap terkendali dan lembut, tapi dengan tekanan kata-kata yang membekas pada perasaan. 
Hal yang juga perlu dingat, jangan sekali-kali kita mengumpat atau mencaci mad’u. Hal itu sama sekali tak baik. Nabi Muhammad sendiri tak pernah mencontohkannya. So giimana kalau mad’u  tetap tidak mengerti dengan teguran secara halus????
Apakah  sebagai murobbi kita harus marah dengan mengumpatnya? Jawabannya, tidak! Kita tetap tidak boleh mengumpatnya. Kita harus sabar dan tetap lemah lembut menasehatinya….understand???

Terapin dulu dah tips-tips di atas…..entar kita sambung lagi dah….To Be Continued…^^


Sukses Menjadi Murobbi (Part 1)

Assalammualaikum Wr Wb.....
Lama ane gak ngepos di blog...heheh

Kali ini ane pingin ngepos tentang kiat-kiat sukses mnjadi Murobbi....:-D,
Nah ane yakin pasti kata-kata "Murobbi" sudah bukan kata yang asing ditelinga sahabat blogger, bener gak? hehhe OK dah kalau emang yang bener2 belum kenal atau asing sama kata ini, ane kasih bocoran dah.....
Kalau ane tanya ke adek2 di kampus, sebagian besar ketika ditanya apa itu Murobbi kebanyakan dari mereka pasti akan menjawab "guru"...atau lebih spesifik lagi ada yang jawab kalau Murobbi itu "guru ngaji"...bener gak tuh??
.....Kalau mau tahu bener gak nya lanjutin terus dah bacanya.....hehehe, Next!

What Is Murobbi???
Kalau dilihat dari katanya sih bisa ditebak kata "Murobbi" ini berasal dari Bahasa Arab, ya kan...? Iya sih.....hhhee #Maksa.
Nah dari buku-buku yang ane baca nih, Murobbi itu sebutan untuk seorang da’i yang membina mad’u dalam halaqah. Ia bertindak sebagai qiyadah (pemimpin), ustadz (guru), walid (orang tua), dan shohabah (sahabat) bagi mad’unya.
"Mad'u apa mbak?".....kalau Murobbi itu sebagai guru, nah mad'u ini tentunya ya muridnya..:-D

Nah muncul lagi dah pertanyaan, "Apa itu halaqah, mbak?"....Tottettttt!!!!
tanya aja lah ya di mang go***e pasti ada hhheee, ntar kalau udah ngeh a.ka ngerti, baru balik lagi deh ke postingan ini :-D

Ilustrasi Halaqah
(Sumber: http://celotehair.files.wordpress.com/2013/07/melingkar.jpg)

Next....pertanyaan baru lagi nih, "lah...jadi murobbi itu mirip-mirip dengan ustadz ya??"

Nah kalau dari buku yg ane baca nih...(buku apaan?) mau tahu???
banyak kok bukunya,,,,salah satu itu buku “114 Tips Murobbi Sukses” karyanya Satria Hadi Lubis, dijelaskan bahwasanya peran murobbi itu berbeda dengan peran ustadz, muballigh atau penceramah. Kalau peran muballigh titik tekannya pada penyampaian materi-materi Islam secara menarik dan menyentuh hati, sedangkan kalau murobbi memiliki peran yang lebih kompleks daripada muballigh. Murobbi perlu melakukan hubungan yang intensif dengan mad’unya. Ia perlu mengenal “luar dalam” mad’unya melalui hubungan yang dekat dan akrab. Ia juga memiliki tanggung jawab untuk membantu permasalahan mad’unya sekaligus bertindak sebagai pembina mental, spritual, dan (bahkan) jasmani mad’unya. Peran ini relatif tidak ada pada diri seorang muballigh. Karena itulah, mencetak murobbi sukses lebih sulit daripada mencetak muballigh sukses....:-D

Siapa mau jadi Murobbi??? angkat jempolnya...:-D

Nah tiba-tiba muncul lagi dah tu pernyataan...."Aku mau sih jadi Murobbi...tapi......"
TAPI APAAAA...???? (siapkan alasan sekarung sampah...LOL)
Biasanya nih ya ada beberapa hal yng sering dijadikan kendala seseorang buat menjadi Murobbi, apaan? periksa dah....salah satunya ada dibawah ini....hehhe

1.      Kendala kemauan
Apaan? ialah kendala berupa belum munculnya kesadaran dan motivasi yang tinggi dari sebagian kita untuk menjadi murobbi. Apa sebabny??? biasanya sih disebabkan belum tahu pentingnya murobbi, belum percaya diri untuk menjadi murobbi, atau karena tidak menganggap prestisius peran murobbi dalam masyarakat.

2.      Kendala kemampuan
Kalau kendala ini berupa minimnya pengetahuan dan pengalaman menjadi murobbi. Memang, menjadi murobbi membutuhkan berbagai kemampuan yang perlu terus ditingkatkan. Beberapa kemampuan yang perlu dimiliki, misalnya pengetahuan agama, dakwah, pendidikan, organisasi, manajemen, psikologi, dan lain-lain.
Kemampuan ini masih terbatas dimiliki oleh kebanyakan umat. So?? ya belajar geh....masak sih mau aja jadi muslim kudet eheheh #No!

3.      Kendala kesempatan
Nah yang ini berupa kendala karena ketiadaan waktu dan kesempatan untuk menjadi murobbi. Kehidupan dunia yang penuh godaan materi ini membuat orang terlena untuk mengejarnya, sehingga tak punya waktu untuk memikirkan hal-hal yang strategis. Termasuk di dalamnya tak punya waktu untuk serius menjadi murobbi. Padahal keberlangsungan eksistensi umat sangat tergantung pada keberadaan murobbi-murobbi handal.  betul???

Nah sekarang nih ya ambil tuh parang, terus tebas habis dah itu kendala-kendala yang ada...hehehhe kita mulai berlatih,,,mulai mempunyai kemauan dalam diri kita, diniatkan lurus semata-mata untuk mendapat Ridho Allah SWT, niat untuk mencetak generasi-generasi Islam yang unggul, (bukan cuma di KaTePe doang), bukan buat mau pamer atau keren-kerenan...trs kalau udah ada kemauan. nah siapkanlah tu kemampuannya untuk menjai Murobbi,,gimana caranya? ya gampang banget...."kalau kita mau jadi guru, ya bagusnya kita juga punya guru, sebagai pembelajaran" #mikir..LOL.
Nah kalau sudah kemauan MANTAB, terus kemampuan udah ada (gak perlu nunggu jadi profesor untuk menjadi guru), nah sisihkanlah waktu untuk menyalurkan ilmu-ilmu agama yang kita dapat itu....yaa paling gak cukup "One Hour One Week" lah...masa sih gak bisa...#AmalanYangGakAkanPutus.

Nah beres dah, tinggal jalani dah...siapa tahu kita termasuk orang yang beruntung untuk mejadi Murobbi yang sukses itu, heheh
Nah terus “Gimana tips-tips sukses jadi Murobbi???"
Ok, Check This Out, Now!!!
berikut beberapa tips sukses menjadi Murobbi dari buku yang ane sebutkan di atas,,,
(Semangat berdebu-debu...eh menggebu-gebu)

1. PERSIAPAN
Yang perlu diperhatikan untuk sukses menjadi Murobbi yang pertama adalah dari persiapan kita...Nah Ancang-ancang nya musti pas ini...tanya kenapa??? karena dalam segala hal itu...persiapan yang matang InsyaAllah akan menghasilkan hasil yang maksimal jg....nah kalau persiapannya aja ala kadarnya,,,ya...bisa dikira-kira lah ya hasilnya...:-D
jadi apa aja sih yang musti disiapkan...?

·        Luruskan Niat
Nah hal yang pertama harus dilakukan sebelum melakukan tips-tips yang lain ialah meluruskan niat kita, kenapa???
Niat merupakan pangkal diterimanya amal. Percuma dong kita beramal kalau niat tidak ikhlas....udah capek-capek pula. Jadi balik lagi tuh kita luruskan niat kita dalam menjadi Murobbi semata-mata ikhlas karena Allah SWT. Buang jauh-jauh dah niat selain ingin populer, ingin mendapatkan pengikut, ingin mengisi waktu luang, ingin dipuji oleh orang lain, atau ingin pamer...apalagi ingin mendapatkan uang! No !!! Kelaut aja lu...!

·        Siapkan materi
Ini nih salah satu kebiasaan buruk murobbi yang sering dijumpai adalah tidak mempersiapkan materi. Nah padahal Shakespeare (Penyair Inggris) pernah mengingatkan, “Barangsiapa naik panggung tanpa persiapan, ia akan turun panggung dengan kehinaan”...nah kebayang gak tuh...?
So, persiapkanlah materi yang akan di sampaikan di halaqah. Persiapkan walau hanya sebentar (10-15 menit lah pemanasan...). Lah terus apa yang mau disiapkan..??? yah misal dalil naqli (dalil dari Al Qur’an dan Hadits) dan aqli (dalil secara rasional) yang berhubungan sama materi yang akan disampaikan, data dan fakta terbaru, ilustrasi dan perumpamaanny, contohnya dalam kehidupan, atau apalaah....pokoknya cari yang bisa membuat materi yang akan kita sampaikan itu menarik dan bisa diserap sama Mad'u...  Ok?? jadi jgn spontan uhuyyy...#iklan

·        Catat apa yang akan dibicarakan dengan mad’u
Selain mempersiapkan materi, hal yang perlu di persiapkan sebelum mengisi halaqah adalah mencatat apa yang akan  dibicarakan dengan mad’u. Misalnya, mencatat apa saja yang akan dievaluasi, apa saja informasi dan instruksi yang akan disampaikan, atau siapa yang akan Anda ajak bicara tentang sesuatu hal. buat apaa..??? ya biar kita ingat apa yang akan kita bicarakan dengan mad’u. Apalagi kalau berhubungan dengan hal-hal penting....misal nih undangan Tasqif,etc...(Apa itu tasqif?? #cariDewe LOL)

·        Persiapkan fisik Anda
"Sesungguhnya badanmu memiliki hak atas dirimu" (HR. Bukhari dan Muslim).

Lah, apa hubungannya fisik dengan murobbi??? (Emangnya mau tanding bola apa?)
Persiapan fisik bukan berarti kita sebagai murobbi harus gagah dan kekar seperti Ade Rai (seorang binaragawan) atau lemah gemulai seperti Cleopatra (ratu cantik dari Mesir Kuno) lhoo.... Tapi yang dimaksud persiapan fisik disini adalah seorang murobbi harus sehat dan segar, terutama menjelang mengisi halaqah. Jika tampangnya aja udah lesu,lemah,lelah,letih dan tak bertulang (Lebay.com) saat mengisi halaqah, so pasti bakal berdampak dong pada suasana halaqah yang  lesu seperti tampang itu....:-D  Awas lho ntar Mad'u bisa2 malah tertular lesu,,atau malah ketiduran,,atau lebih parahnya lagi kabur dah tu...LOL.
So, sebelum ngisi halaqoh...persiapkan dulu fisik kita, minimal bisa lah tidur dulu 30 menit jadilah...hehehe, Next!

·        Tingkatkan kepercayaan diri
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS.  3 : 139).

Persiapan materi dan persiapan fisik tak akan banyak berarti kalau kita minder waktu mengisi halaqah. Semua yang mau kita sampaikan jadi buyar...terbang entah kemana #sokpuitis... Rencana jadi berantakan. Memang, kepercayaan diri yang tinggi amat penting ketika kita ingin berbicara di depan banyak orang. Bahkan kepercayaan diri yang tinggi dapat menutupi kekurangan kita (seperti tidak siap materi atau kelelahan fisik)... 
So, tingkatkan kepercayaan diri kita, terutama sebelum mengisi halaqah. Caranya dengan banyak mengingat-ingat kelebihan dan prestasi kita, membayangkan kesuksesan yang akan kita dapatkan, meyakini bahwa kita lebih baik dari apa yang kita kira, dan meyakini bantuan Allah kepada orang-orang yang berdakwah...Allahu Akbar..!!!
Kalau di tengah-tengah kita mengisi halaqah nih, eh tiba-tiba muncul perasaan gugup dan minder, buang jauh-jauh dah pikiran itu...(Kelaut dah sono...!!). Yakinlah bahwa hal itu merupakan godaan syetan....#INGAT syaitan ada dimana-mana bro,,jd waspadalah 3x (kayak bang Napi)

·        Belajarlah jadi murobbi dengan mad’u yang tingkatannya lebih “rendah"
Dari buku yang pernah ane baca nih (tersebut di atas tadi lho), ada satu tips yang dapat dilakukan jika kita merasa tidak PeDe membina. Apa? Latihlah kepercayaan diri kita dengan membina halaqah yang derajatnya lebih “rendah”. Misal nih, kalau kita mahasiswa dan belum PeDe membina mahasiswa, tangani lebih dulu anak-anak SMU. Kalau belum PeDe juga, cari mad’u yang lebih rendah lagi, yakni anak-anak SMP. Kalau itu pun belum PeDe, cari mad’u anak-anak SD....
Nah...kalau nanti udah PeDe menangani mad’u yang derajatnya lebih “rendah”, baru mencoba menangani mad’u yang derajatnya “sama” (misalnya sesama mahasaiswa). Bahkan jika PD sudah prima, Anda bisa menangani mad’u yang derajatnya lebih “tinggi” daripada kita. Misal, membina lulusan sarjana atau menangani para eksekutif....yo ora opo-opo lek wes wani dan mumpuni :-D
So, latihlah terus PeDe kita berangsur-angsur, Insya Allah Anda akan menjadi murobbi yang PeDe membina.....Aaammiiinn

·        Siapkan materi cadangan
Ibarat tentara yang mau berperang nih, membawa senjata cadangan. Murobbi juga perlu demikian. Kita sebagi murobbi perlu menyiapkan materi cadangan. Mengapa? Kadangkala kondisi halaqah tidak sesuai dengan yang kita bayangkan.
Misal nih, Kita berharap semua mad’u hadir tapi ternyata yang hadir hanya segelintir, sehingga kita merasa sayang kalau memberikan materi tanpa didengar oleh semua mad’u. Atau bisa jadi waktu kita ngobrol dengan mad’u sebelum acara halaqah dimulai, eh ternyata ada masalah mendesak yang perlu segera diberikan solusi melalui taujih (pemberian materi). Atau karena sesuatu hal, waktu kita menyampaikan materi menjadi sangat sempit.... Nah! pada saat-saat seperti itu materi yang kita siapkan tadi mungkin kurang relevan lagi untuk disampaikan, so kita perlu menyampaikan materi lain yang lebih cocok dengan perubahan situasi halaqah yang mendadak tadi. Jadi di sinilah pentingnya kita menyiapkan materi cadangan itu tadi....betul??

·        Simpan stock materi seperti dokumen berharga
Bagaimana agar kita menjadi murobbi yang kompeten di mata mad’u? Salah satu caranya adalah mempunyai stock (persediaan) materi yang banyak, sehingga tidak terkesan kita “kehabisan” materi.
Biasanya, murobbi mendapatkan materi secara estafet dari struktur dakwah di atasnya. Nah…kalau kita mendapatkannya, simpan materi dengan baik layaknya dokumen berharga...kalau perlu dicopy-in dah tu...atau di simpan di tempat khusus....Nah sebaiknya, stock materi tadi itu disimpan dalam file-file sesuai dengan urutan pokok bahasan atau jenjang halaqah, jadi pas kita membutuhkannya gampang carinya...:-D

·        Sabarlah terhadap proses perkembangan mad’u
Sebagai murobbi, kita harus mempunyai stock (persedian) sabar yang banyak.... terutama sabar terhadap proses perkembangan mad’u. Sebab kalau tidak sabar, kita akan cepat kecewa, stres, dan uring-uringan sendiri melihat berbagai polah mad’u yang seringkali tidak sesuai dengan harapan kita.... jadi inget, HARUS SABAR! jangan mudah putus asa! Jangan Pesimis (Penyakit Si Miskin itu)! Apalagi sampai memecat si do'i dari halaqah.....jangan sampai dah...susah lho cari orang yang mau ikutan halaqah itu....:-(
Karena itu, sabarlah terhadap proses perkembangan mad’u. Jangan cepat menyimpulkan dan jangan cepat putus asa terhadap mad’u yang terlihat lambat berubah.....Keep Hamasah!!!!

·        Beri angka 10 di dahi mad’u
Kamu adalah umat terbaik yag dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (QS. 3 : 110)

Apa maksudnya? Apakah maksudnya mencoretkan angka 10 di dahi mad’u dengan spidol???
Oh No, tentu bukan geh....
Maksudnya, kita selalu membayangkan mad’u dengan pandangan optimis bahwa mereka akan menjadi orang-orang besar kelak. Kita optimis mereka akan menjadi orang-orang sukses di kemudian hari. Kita yakin mereka akan berubah lebih baik lagi. Angka 10 melambangkan optimisme kita yang besar terhadap mereka...:-D
Sebagai murobbi kita harus yakin mad’u lebih banyak kelebihannya daripada kekurangannya. Kita harus optimis mereka akan berhasil dibina. Kita harus yakin mereka bukanlah sembarang orang, tapi calon pemimpin bangsa dan umat. Sikap optimisme ini akan mempengaruhi perilaku kita ketika membina mereka. Sebab dari buku yang ane baca,,menurut pakar kepemimpinan, "jika pemimpin ingin merubah orang mulailah dari perubahan paradigma terhadap orang tersebut. Jika pemimpin memiliki paradigma bahwa orang yang ia bina dapat berubah, maka orang tersebut akan berubah sesuai dengan apa yang ia persepsikan. Sebaliknya, jika seorang pemimpin pesimis anak buahnya akan berubah menjadi lebih baik, maka seperti itulah yang akan terjadi."
So, beri angka 10 pada dahi mad’u , bukan angka 6. Selalau yakin dan optimis terhadap perubahan mad’u ke arah yang lebih baik lagi, :-D

·        Yakin akan sukses membina
Kami percaya bahwa tabir yang memisahkan antara kami dan keberhasilan hanyalah keputusasaan” (Hasan Al Banna).
Keberhasilan itu berawal dari pikiran. Kalau kita berpikir akan gagal maka kegagalan akan datang di pelupuk mata. Sebaliknya, kalau kita berpikir akan sukses maka kesuksesan akan menjelang. Rasulullah saw adalah murobbi yang yakin akan sukses membina. Ia tidak pernah merasa pesimis membina mad’unya. Sejarah mencatat Rasulullah saw berhasil mencetak orang-orang terbaik sepanjang masa.
Kita bisa bayangkan, bagaimana orang buta seperti Abdullah Ummu Maktum ra, orang yang cacat seperti Abdulah bin Mas’ud ra, dan orang yang dianggap hina, seperti Bilal bin Robbah ra, dapat tumbuh berkembang menjadi orang-orang terbaik di masyarakatnya. Semua itu tak bisa lepas dari keyakinan Nabi, sebagai murobbi, bahwa ia akan sukses membina mad’unya.
So, jangan sepelekan keyakinan akan sukses sebelum kita sukses membina. Kita perlu menanamkan keyakinan tersebut dengan kuat di hati sanubari Kita. Hilangkan keraguan-keraguan akan sukses. Semakin kita yakin, semakin besar peluang kesuksesan kita. Why? Karena keyakinan, disadari atau tidak, mengubah sikap dan perilaku kita.
Sukses..! Sukses..! dan Sukses...!!!

To Be Continue....tangan ane udah keriting,,,tunggu postingan selanjutnya...:-D




Therapeutic Community

Therapeutic Community adalah sebuah struktur dan hirarki di dalam rangkaian program, kebutuhan untuk mengisolasi individu dari pengaruh luar selama menjalani treatment, kebutuhan untuk membuat treatment tersebut bertahap dan intensif, serta di dalamnya ada norma yang akan membentuk tanggung jawab dan kebiasaan (De Leon, 1994). Selain itu juga digunakan pendekatan kelompok, dimana sebuah kelompok dijadikan suatu media untuk mengubah suatu prilaku lewat interaksi di dalamnya (DeLeon, 2000).


Therapeutic Community (TC), yaitu suatu metode rehabilitasi sosial yang merupakan kumpulan atas orang-orang yang mempunyai masalah yang sama dan memiliki tujuan yang sama, yaitu menolong diri sendiri dan sesama yang oleh seseorang dari mereka, sehingga terjadi perubahan tingkah laku dari yang negatif ke arah tingkah laku yang positif.
a.      Struktur Program
1.      Behaviour management shaping (Pembentukan tingkah laku)
2.      Emotional and psychological  (Pengendalian emosi dan psikologi)
3.      Intellectual and spiritual (Pengembangan pemikiran dan kerohanian)
4.      Vocational and survival (Keterampilan kerja dan keterampilan bersosial serta bertahan hidup)
b.      Pillar Therapeutic Community
1.      Family milieu concept (Konsep kekeluargaan), yaitu konsep lingkungan keluarga dengan norma dan nilai-nilai kasih sayang.
2.      Peer pressure (Konsep tekanan rekan sebaya), yaitu proses dimana kelompok menekankan bahwa teman sebaya (senasib) memerlukan dorongan untuk kesembuhan.
3.      Therapeutic (Konsep terapi), yaitu lingkungan yang mendukung proses terapi
4.      Religius session (Sesi agama), yaitu proses untuk meningkatkan nilai-nilai dan pemahaman agama.

5.      Role modelling (Keteladanan), yaitu proses pembelajaran dimana orang yang sudah berhasil melepaskan diri dari narkoba dapat memberikan contohdan dorongan.
c.       Tahapan Program TC
Tahapan program dalam model Therapeutic Community (TC) adalah sebagai berikut:
No
Tahapan
Keterangan
1
Induction
Tahap ini berlangsung pada sekitar 30 hari pertama saat residen mulai masuk. Tahap ini merupakan masa persiapan bagi residen untuk memasuki tahapan Primary.
2
Primary Stage
Yaitu tahapan program rehabilitasi social, di mana residen ditempa untuk memiliki stabilitas fisik, dan emosi. Residen juga dipacu motivasinya untuk melanjutkan tahap terapi selanjutnya. Periode tahap ini berlangsung selama kurang lebih 6 hingga 9 bulan. Para residen akan menjalani tahapan younger member, middle peer, dan older member.
3
Re-Entry Stage
Adalah tahapan program rehabilitasi, di mana residen mulai memantapkan kondisi psikologis dalam dirinya, mendayagunakan nalarnya dan mampu mengembangkan keterampilan social dalam kehidupan bermasyarakat. Tahap ini merupakan lanjutan dari tahap primer, yang tujuannya untuk mengembalikan residen ke dalam kehidupan masyarakat pada umumnya.
4
Aftercare
Adalah suatu program yang terdiri dari berbagai macam intervensi, pelayanan dan asistensi yang disediakan untuk recovery, yang merupakan kelanjutan dari program primer atau primary treatment, yaitu Primary Stage, re-entry program.

c.       Struktur Hirarki
Dalam kegiatan TC, dibagi kelompok-kelompok kerja yang bertanggungjawab terhadap suatu departement dimana residen akan ditempatkan di dalamnya untuk bertugas sesuai degan fungsi kerjanya masing-masing (Job Function). Dalam kelompok kerja setiap departemen ini, ada sistem statur (hirarki) yang menentuka tingkatan tanggung jawab dari residen. Dengan adanya hirarki ini maka setiap residen akan mempunyai jabatan masing-masing.

d.      Kegiatan TC
Adapun kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan dalam metode TC ini adalah sebagai berikut:
No
Kegiatan
Keterangan
1
Morning Meeting
Kegiatan rutin setiap pagi hari berupa pertemuan seluruh family untuk menyampaikan hal-hal penting yang terjadi di lingkungan blok mereka.
2
Morning Briefing
Kegiatan yang membahas berbagai hal yang menyangkut kegiatan TC selama 1 minggu dilakukan pada akhir minggu. Tujuannya untuk meningkatkan kejujuran sesama family.
3
Open House
Kegiatan pemeriksaan dan penggeledahan kamar hunian (blok) resident TC untuk melihat kondisi kamar baik dari sisi kebersihan, kerapihan maupun adanya pelanggaran yang dilakukan residen. Kegiatan ini dilakukan secara insidentil (sewaktu-waktu), dipimpin oleh konselor dan dibantu oleh status older.
4
Encounter Group
Kegiatan yang dirancang khusus untuk mengekspresikan perasaan kesal, kecewa, sedih, perhatian (concern), dan lain-lain. Kegiatan ini merupakan kegiatan dari pembentukan perilaku dan pengaturan emosi agar lebih disiplin dan terarah.
5
Static Group
Kegiatan dalam bentuk kelompok-kelompok kecil yang membicarakan berbagai macam persoalan kehidupan keseharian dan kehidupan yang lalu
6
P.A.G.E. Group   (Peer Accountability Group Evaluation)
Adalah suatu kegiatan yang mengajarkan residen untuk dapat memberikan penilaian positif dan negatif terhadap perilaku dan sikap residen lain dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kegiatan ini residen dilatih untuk meningkatkan kepekaan dan kepedulian terhadap perilaku komunitas.
7
Mix Confrontation
Adalah exploring dari suatu permasalahan yang diungkapkan oleh seorang residen.
8
Seminar
Pemberian materi yang berkaitan dengan TC, narkoba, maupun pengetahuan lain yang relevan. Tujuannya adalah membuka wawasan dan menumbuhkan kesadaran diri terhadap bahaya napza.
9
Sport and Recreation
Kegiatan ini merupakan kegiatan untuk mereduksi tingkat stress yang dialami residen selama mengikuti kegiatan. Kegiatan Sport berupa kegiatan senam massal, sepak bola, bola voli dan bola basket. Sementara kegiatan recreation berupa  musik/ band dan video session, yaitu nonton film bersama.
10
Pembentukan Status Older
Kegiatan ini berfungsi untuk membentuk jiwa kepemimpinan dan meningkatkan rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan. Periode pergantian (job changes) ditentukan oleh petugas dengan memperhatikan progress dari masing-masing resident.
11
Function
Kegiatan yang dilakukan dalam rangka untuk meningkatkan rasa tanggung jawab dan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan sekitar. Kegiatan ini dilakukan setiap hari.
12
Religious Session
Kegiatan yang diarahkan pada pendalaman diri terhadap kehidupan spiritual dan keagamaan.

You are number :

It's me

My Photo
oya'
I was an architectural engineering student at Sriwijaya University...Simple.My greats inspiation is my family. One word from me, time is not limited, but our time is limited. So,do the best we can..!!
View my complete profile

Copyright © 2012 my sketchesTemplate by :Urangkurai.Powered by Blogger.Please upgrade to a Modern Browser.