Sukses Menjadi Murobbi (Part 2)

Assalammualaikum Wr Wb…
Nah....masih semangat pagi sob,,,,sesuai janji ane, ane bakalan ngelanjutin bahasan tentang aa-apa aja sih tips selanjutnya yang membantu menjadi Murobbi sukses...??? langsung aja dah…gak usah basa-basi, entar keburu jadi bubur…(lah enak dong buat sarapan..hha)

2. MENINGKATKAN KREDIBILITAS DAN WIBAWA

Nah kalau dipostingan sebelumnya ane sudah jelaskan tentang tips dalam mempersiapkan diri sebelum mulai mengisi halaqah, selanjutnya ialah giman nih tips buat meningkatkan kredibilitas dan wibawa kita didepan mad’u?? Eh tunggu dulu…apa itu kredibilitas? Terus maksudnya wibawa juga apaan..???
Silahkan cari dikamus dah…..hahhah

  ·     Tambah pengetahuan anda
Sebagai murobbi, kita jangan seperti jalan yang dilalui kendaraan dong, lah…kenapa emang?? Artinya, kita hanya dilalui mad’u aja….lho kok bisa?? karena pengetahuan kita tertinggal dibandingkan mad’u. Mungkin pada awal halaqah, mad’u terkagum-kagum dengan pengetahuan kita, tapi lama kelamaan hati-hati lho…kekaguman itu bisa hilang! Nah loh…
Tanya kenapa? Karena pengetahuan kita tidak bertambah… So akibatnya tuh Mad’u hanya mendapatkan pengetahuan yang sama dari waktu ke waktu. Itu-itu lagi…itu lagi..Ah bosan! terlalu monoton. Kalau udah begitu bias-bisa nih ya  ia akan lari dari kitaa untuk mencari murobbi lain yang pengetahuannya lebih tinggi….Nah awas lho kalah pinter ntar ahhahaa
So, Kita musti menambah terus menerus pengetahuan kita, kalau gak mau tuh ditinggalin sama mad’u (seperti jalan yang dilalui kendaraan)….#SakitnyaTuhDisini….:-(. Banyaklah membaca, berdiskusi, mengikuti seminar, menghadiri forum-forum majelis ilmu, dan lain-lain. Pokoknya tambahlah pengetahuan kita dalam berbagai bidang, terutama bidang agama dan sosial…

·        Tambah pengalaman anda
Idealnya adalah semakin tinggi “jam terbang” kita sebagai murobbi, semakin ahli dong kita membina. Karena pengalaman sangat dibutuhkan dalam membina. Untuk mengakselarasi pengalaman kita (udah kaya sekolah aja…), sering-seringlah membaca buku tentang cara membina halaqah (seperti baca buku yang saya sebutkan diatas, misal) dan sering-seringlah berdiskusi antar sesama murobbi untuk tukar menukar pengalaman.
Nah yang paling penting adalah, kalau kita pernah gagal membina, jangan kecewa. Ya…anggap aja itu sebagai pengalaman berharga. Pelajari apa sih yang bikin gagal? Jadi bisa untuk bekal membina di kemudian hari… So cobalah terus membina walau sering gagal. Hindari rasa putus asa….:-D

·        Katakan tidak tahu, jika memang tidak tahu 
“…Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” (QS. 33 : 72).
Kalau mad’u bertanya, terutama tentang hukum agama, yang kita sendiri tak tahu jawabannya, maka katakan saja secara jujur bahwa kita tak tahu. Jangan sok tau deh….heheh entar malah sesat lagi, kan berabe dah. Hal itu sama aja menjerumuskan mad’u pada pengetahuan yang salah. Nah selain itu juga, kalau suatu ketika ia tahu jawaban kita itu salah, udah pasti kredibilitas kita di matanya akan jatuh. Gak menuntut kemungkinan tuh lain kali, ia akan ragu-ragu dengan jawaban kita terhadap pertanyaan lain, walau jawaban itu benar. Tsiqoh (kepercayaan)nya kepada kita juga bisa goyah gara-gara “sok tau” tadi…heheh 
Jadi kalau kita menjawab jujur bahwa kita gak tahu, dan akan berusaha mencari tahu jawabannya, maka hal itu tidak akan menjatuhkan wibawa Anda. Justru mereka akan simpati pada kita, karena kita jujur dan gak “sok tau”.

·        Jangan terlalu banyak bercanda
Murobbi itu mestinya dikesankan oleh mad’unya sebagai orang yang serius. Kesan serius harus melekat pada diri murobbi, karena murobbi adalah pejuang Islam. Hati-hati loh…serius bukan berarti misterius..apa lagi ngeri kaya kus-kus hehhe. Agar tampak serius, murobbi jangan terlalu banyak bercanda dengan mad’unya, baik di dalam atau di luar halaqah. Sebab hal itu akan memberi kesan sebaliknya, kesan sebagai pelawak, bukan pejuang Islam…Gak lucu kan kalau kita tiba-tiba diminta mad’u untuk stand up comedy??
Tapi lagi-lagi, jangan sampai kita dikesankan mad’u sebagai orang yang terlalu serius, bahkan mungkin kaku dan angker…ooo seraaammm!! Kita perlu dikesankan juga oleh mad’u sebagai orang yang ramah dan supel. So, bolehlah sesekali kita bercanda dengan mad’u. Bercanda itu ibarat garam dalam makanan. Perlu ada, tapi jangan terlalu banyak….entar asin, terus darah tinggi dah..hahha

·        Hapal beberapa ayat/hadits “favorit”
Anda ingin menjadi murobbi yang tampak kompeten??? Nah hapalkan tuh  sebanyak mungkin  ayat dan hadits. Namun, kalau kita memang tak punya waktu untuk menghapal banyak ayat dan hadits, hapalkan aja beberapa ayat dan hadits “favorit”.  Apaan??? Bias jadi ayat dan hadits yang sifatnya umum dan sering diungkap orang. Misalnya, surah 21 : 107, 3 : 85, 2 : 120, 2 : 108, hadits arba’in, dan lain-lain….
Dengan menghapal ayat dan hadits “favorit” serta sering menyebutkannya di hadapan mad’u, kita akan tampak lebih kompeten…hehhe Nah kekurangan kita yang hanya hapal sedikit ayat/hadits akan tertutupi. Mad’u tak tahu bahwa kita sebenarnya hanya punya hapalan yang itu-itu saja. Tapi tetep lho ya musti ada motivasi dari diri kita untuk menambah hafalan-hafalan lainnya…karena sebenarnya menjadi murobbi itu bias sebagai control diri kita sendiri,,”Gimana kita mau mencetak generasi unggul kalau kita sendiri aja gak unggul, bener gk??”

·        Berikan informasi eksklusif
“..Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman” (QS. 61 : 13).
Nah salah satu cara agar kita cepat dipercaya mad’u adalah dengan memberikannya informasi yang menurutnya eksklusif (istimewa). Informasi eksklusif ini misal berupa informasi yang jarang diekspos media massa, atau informasi yang diekspos media massa tapi kita mendapatkan informasi “bocoran” yang berbeda, informasi tentang diri kita yang belum banyak diketahui orang lain, (ini mah buka kartu dewe dong..hihi) dan informasi tentang rencana kita terhadap halaqah atau terhadap diri mad’u….
Dengan memberikan informasi ekslusif itu, mad’u akan merasa dipercaya oleh kita, sehingga ia pun akan percaya dengan kita. Nah dari kepercayaan itu, ia akan lebih terbuka menyampaikan permasalahannya kepada kita, so kita dapat lebih cepat dan tepat memahami mad’u….Kena deh!!! :-D
Next!

·        Jangan mau dibayar
“Kalau bukan karena murid, guru tidak akan mendapatkan pahala. Oleh karena itu, janganlah Anda meminta upah kecuali dari Allah ta’ala, sebagaimana firman Allah mengisahkan Nuh as, “Wahai kaumku. Aku tidak meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanya dari Allah” (QS. 11 : 29) (Imam Al Ghazali).
Murobbi beda dengan penceramah (ustadz). Kalu murobbi berperan sebagai pembina (orang tua, sahabat, guru, dan pemimpin) bagi mad’u, penceramah lebih berperan sebagai guru (ustadz) aja. Hubungan murobbi dengan mad’u sangat dekat dan berlangsung lama. Sebaliknya hubungan penceramah dengan mad’u jauh, bahkan mungkin tidak saling mengenal, dan sifatnya sementara. Karena itu, penceramah boleh mendapat honor ceramah. Sebaliknya, murobbi tidak boleh! Tanya kenapa?? Kalau murobbi menerima bayaran (honor) dari mad’u dapat dipastikan sikapnya akan sulit obyektif dan sulit bersikap asertif kepada mad’u. Jika mad’u berbuat salah, ia akan sulit bersikap tegas karena kuatir mad’u tersinggung dan “mogok” membayar. Sebaliknya, mad’u juga akan meremehkan murobbi karena merasa membayarnya. Jika ditegur murobbi, mungkin ia berkata (dalam hati), “urusan apa anda menegur saya. Bukankah kamu saya yang bayar?”, Nah lu…berabe dah urusannya…L
Lagi nih ya, kalau murobbi dibayar, hubungan murobbi sebagai qiyadah (pemimpin dakwah) dan mad’u sebagai jundi (tentara dakwah) juga akan sulit terealisir. Karena hubungan mereka bukan berdasarkan kesadaran dan keikhlasan untuk mengikat diri dalam amal jamai’ (aktivitas bersama), tapi berdasarkan pamrih (membayar dan dibayar). So kembali lagi ke yang pernah ane jelasin sebelumnya…kembali lurusin niat dah…

·        Berikan keteladanan dengan kesederhanaan
Keteladanan adalah cara ampuh mempengaruhi orang lain. So, jadikan keteladanan sebagai senjata utama mempengaruhi mad’u. Dari sekian banyak keteladanan yang perlu kita lakukan, maka sikap sederhana merupakan pilar utamanya. Why??? Sebab sikap sederhana sangat efektif untuk membuat orang menaruh rasa hormat kepada pelakunya. Sebaliknya, kalau bermewah-mewahan akan membuat orang iri dan benci kepada pelakunya…..#Mikir

·        Hati-hati dalam berpendapat 
Hati-hati loh dalam berpendapat, sebab suara kita itu sangat diperhatikan mad’u. Apalagi kalau mad’u udah tsiqoh (percaya) sama kita. So, sebelum berpendapat, pikirkan dulu dengan matang apa yang akan kita utarakan itu, gimana dampaknya terhadap mad’u. Jangan asal ceplas ceplos aja kaya bajay gak ada rem nya. Hal ini berbahaya, jika pendapat kita salah. Pendapat yang salah, bukan hanya mengurangi kredibilitas kita sebagai murobbi, tapi juga dapat menjerumuskan mad’u pada kesalahan.
Contoh nih, mad’u bertanya kepada kita tentang bagaimana sikap kita terhadap orang kafir. Lalu kita dengan tegas mengatakan bahwa mereka harus dimusuhi. Mad’u akan mengambil pendapat kita sebagai pegangan baginya dalam pergaulan. Setiap bertemu orang kafir ia akan memusuhinya. Padahal tidak semua orang kafir perlu dimusuhi. Kan ada kriteria dan batasannya…tapi karena kita tidak merinci pendapat kita ketika mad’u menanyakannya, mad’u menerapkannya untuk segala situasi, Nah Loh….
Dalam kasus lain, kalau kita ragu-ragu dengan pendapat kita sendiri, sampaikan hal itu kepada mad’u so ia tahu bahwa pendapat kita itu belum final. Atau katakan padanya dengan pendapat yang global. Tidak terlalu spesifik. Misalnya lagi nih, mad’u bertanya tentang siapa sebaiknya yang menjadi pembicara dalam seminar yang diadakan oleh halaqah. Eh kebetulan kita tidak tahu atau ragu menunjuk siapa nama yang cocok untuk seminar tersebut, maka katakan padanya bahwa pembicaranya bisa siapa saja yang penting cocok dengan tema seminar tersebut. Jawaban yang global ini untuk menjaga agar kita tidak disalahkan oleh mad’u, jika kelak pendapat kita ini ternyata salah atau kurang tepat.

·        Manfaatkan keterampilan khusus Anda
Anda bisa menyanyi? Atau ahli berpantun ria? Melukis? Melawak? bermain sulap? menulis atau melakukan hal-hal yang unik? Nah kalau kita memiliki keterampilan khusus (yang tidak bertentangan dengan syar’i) seperti itu, gunakan tuh untuk menarik perhatian mad’u…. Misal, kalau suara kita merdu, mengapa tidak menyanyi nasyid atau bersholawat di tengah-tengah penyampaian materi kita? Gak ada salahnya kok…Hal itu bukan saja menjadi selingan yang menarik, tapi juga dapat menggugah kesadaran mad’u lebih baik lagi. So, carilah dan manfaatkanlah kelebihan khusus yang kita miliki untuk menambah kredibilitas dan menarik simpati mad’u.

·        Jaga bau badan Anda
Pernah gak kita berdekatan dengan orang yang bau badannya nggak enak? Gimana tuh rasanya? terganggu bukan? Bahkan bisa ngerusak konsentrasi. Nah….kalau yang bau badan itu adalah kita sebagai murobbi, bagaimana dampaknya bagi mad’u?
Di dalam halaqah, bau badan akan lebih cepat tercium karena jaraknya berdekatan. Akibatnya Mad’u akan sulit konsentrasi kalau bau badan kita tidak enak (apalagi menyengat)….hiiiii Ia juga akan menilai kita sebagai orang yang kurang peduli terhadap kebersihan. Bahkan lebih jauh ia bisa menilai kita jarang mandi!!!! Hhaaaa kaya kebanyakan antek dong (Anak Teknik) hhaaa LOL

·        Hati-hati dengan bau mulut Anda
Selain bau badan, mulut juga perlu dijaga agar tidak mengeluarkan bau yang tidak sedap. Mulut yang bau akan membuat mad’u enggan berdekatan dengan kita. Apalagi kita bakalan banyak nyerocos tuh selama mengisi materi halaqah…Bau mulut juga menujukkan ketidakpedulian kita terhadap kesehatan dan kebersihan.
So, jagalah bau mulut kita agar terhindar dari bau yang tidak sedap dengan menggosok gigi, memakai obat pengharum mulut dan memperhatikan apa yang kita makan…..Ok???

·        Jangan banyak mengeluh di depan peserta (selalu terlihat optimis)
Kalau kita terlihat sering mengeluh di depan mad’u, maka mereka akan pergi dari kita. Orang tidak suka dengan mereka yang suka mengeluh. Baik mengeluh tentang keadaan dirinya, orang lain, atau situasi sekitarnya. Misal nih, mengeluhkan tentang keadaan dirinya yang banyak kekurangan, mengeluhkan tentang orang lain yang menyakiti dirinya, mengeluhkan kondisi sekarang yang sulit mencari uang, dan lainlain…Oh No..!!!
Ingat! kita adalah murobbi, yang ingin merubah orang lain ke masa depan yang lebih baik. Sebelum kita merubah orang lain ke arah yang lebih baik, kita sendiri harus optimis bahwa masa depan kita itu lebih baik. Optimis juga bahwa apa yang kita bawa (dakwah) juga akan sukses.

·        Penuhilah janji Anda
“..sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungan jawabnya” (QS. 17 : 34).
Penuhilah janji kita, kalau punya janji. Kalau kita melanggar janji berarti kita melakukan “penarikan”. Maksudnya, kita akan membuat mad’u kecewa dan tidak simpati kepada kita lagi. Inget kan ciri-ciri orang munafik…??

·        Jangan menjelek-jelekkan mad’u di depan mad’u lain
“Tahuah kalian apa itu ghibah?’ Mereka menjawab, Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Nabi saw bersabda: “Kamu menyebut saudaramu dengan hal yang tidak disukainya.” Ditanyakan, “Bagaimana jika apa yang aku katakana itu ada pada diri saudaraku itu?” Nabi saw menjawab: “Jika apa yang kau katakan itu ada pada dirinya maka sungguh kamu telah meggunjingnya, dan jika tidak ada pada dirinya maka sungguh kamu telah menyebutkan hal yang dusta tentang dirinya” (HR. Muslim).
Kalau kita merasa kecewa atau kesal dengan mad’u, maka jangan kita jelek-jelekkan ia di depan mad’u lain. Misalnya, ketika ia tidak hadir di halaqah, kita mengaitkan ketidakhadirannya dengan perilakukanya yang tidak kita senangi. Anda menyampaikan hal itu di depan halaqah. Jangan…! Mad’u yang dijelek-jelekkan menjadi antipati terhadap kita. Mad’u yang mendengar kita menjelek-jelekkan mad’u lain juga akan merasa murobbinya suka ghibah. Mereka akan berpikir bahwa jika mereka tidak disenangi murobbi pasti akan diperlakukan sama dengan dijelek-jelekkan di depan mad’u lain. Jika mad’u yang mendengar kita mengghibah mad’u lain setuju dengan pendapat kita, mereka akan menjaga jarak dengan mad’u tersebut. Akhirnya, hubungan antar mad’u menjadi renggang. Hubungan kita dengan mad’u yang kita jelek-jelekkan juga menjadi kurang harmonis….udahhh bakalan gak lama lagi bubar dah kalau udah gitu mah….
So, Kalau kita kurang suka dengan perilaku mad’u, lebih baik dekati ia, lalu bicarakan ketidaksukaan itu secara empat mata dengannya. Hal ini lebih baik dampaknya dan lebih membuat mad’u respek dengan Anda. 

·        Jangan suka mengumbar kemarahan
Murobbi yang baik adalah murobbi yang tidak mengumbar kemarahan. Ingat!! kita bukan mandor bos…yang tugasnya ngomel melulu. Tapi inget kita adalah pembina yang mengajak orang lain ke arah Islam. Seorang pembina tentu saja perlu mendidik anak didiknya secara lemah lembut dan tanpa paksaan. Lebih suka menggunakan bahasa sindiran atau pertanyaan, jika menegur, daripada mengumbar kemarahan.
Mengumbar kemarahan hanya akan membuat kita tampak tak berwibawa di hadapan mad’u. Selain itu juga mencerminkan kekerdilan jiwa. Jika pun ingin marah, marahlah dengan bahasa non verbal (bahasa tubuh), misalnya dengan wajah yang memerah, pandangan mata yang menunjukkan ketidaksenangan, atau tangan yang terkepal. Bersamaan dengan itu, bahasa verbal Anda tetap terkendali dan lembut, tapi dengan tekanan kata-kata yang membekas pada perasaan. 
Hal yang juga perlu dingat, jangan sekali-kali kita mengumpat atau mencaci mad’u. Hal itu sama sekali tak baik. Nabi Muhammad sendiri tak pernah mencontohkannya. So giimana kalau mad’u  tetap tidak mengerti dengan teguran secara halus????
Apakah  sebagai murobbi kita harus marah dengan mengumpatnya? Jawabannya, tidak! Kita tetap tidak boleh mengumpatnya. Kita harus sabar dan tetap lemah lembut menasehatinya….understand???

Terapin dulu dah tips-tips di atas…..entar kita sambung lagi dah….To Be Continued…^^


0 comments:

Post a Comment

You are number :

It's me

My Photo
oya'
I was an architectural engineering student at Sriwijaya University...Simple.My greats inspiation is my family. One word from me, time is not limited, but our time is limited. So,do the best we can..!!
View my complete profile

Copyright © 2012 my sketchesTemplate by :Urangkurai.Powered by Blogger.Please upgrade to a Modern Browser.