Sukses Menjadi Murobbi (Part 1)

Assalammualaikum Wr Wb.....
Lama ane gak ngepos di blog...heheh

Kali ini ane pingin ngepos tentang kiat-kiat sukses mnjadi Murobbi....:-D,
Nah ane yakin pasti kata-kata "Murobbi" sudah bukan kata yang asing ditelinga sahabat blogger, bener gak? hehhe OK dah kalau emang yang bener2 belum kenal atau asing sama kata ini, ane kasih bocoran dah.....
Kalau ane tanya ke adek2 di kampus, sebagian besar ketika ditanya apa itu Murobbi kebanyakan dari mereka pasti akan menjawab "guru"...atau lebih spesifik lagi ada yang jawab kalau Murobbi itu "guru ngaji"...bener gak tuh??
.....Kalau mau tahu bener gak nya lanjutin terus dah bacanya.....hehehe, Next!

What Is Murobbi???
Kalau dilihat dari katanya sih bisa ditebak kata "Murobbi" ini berasal dari Bahasa Arab, ya kan...? Iya sih.....hhhee #Maksa.
Nah dari buku-buku yang ane baca nih, Murobbi itu sebutan untuk seorang da’i yang membina mad’u dalam halaqah. Ia bertindak sebagai qiyadah (pemimpin), ustadz (guru), walid (orang tua), dan shohabah (sahabat) bagi mad’unya.
"Mad'u apa mbak?".....kalau Murobbi itu sebagai guru, nah mad'u ini tentunya ya muridnya..:-D

Nah muncul lagi dah pertanyaan, "Apa itu halaqah, mbak?"....Tottettttt!!!!
tanya aja lah ya di mang go***e pasti ada hhheee, ntar kalau udah ngeh a.ka ngerti, baru balik lagi deh ke postingan ini :-D

Ilustrasi Halaqah
(Sumber: http://celotehair.files.wordpress.com/2013/07/melingkar.jpg)

Next....pertanyaan baru lagi nih, "lah...jadi murobbi itu mirip-mirip dengan ustadz ya??"

Nah kalau dari buku yg ane baca nih...(buku apaan?) mau tahu???
banyak kok bukunya,,,,salah satu itu buku “114 Tips Murobbi Sukses” karyanya Satria Hadi Lubis, dijelaskan bahwasanya peran murobbi itu berbeda dengan peran ustadz, muballigh atau penceramah. Kalau peran muballigh titik tekannya pada penyampaian materi-materi Islam secara menarik dan menyentuh hati, sedangkan kalau murobbi memiliki peran yang lebih kompleks daripada muballigh. Murobbi perlu melakukan hubungan yang intensif dengan mad’unya. Ia perlu mengenal “luar dalam” mad’unya melalui hubungan yang dekat dan akrab. Ia juga memiliki tanggung jawab untuk membantu permasalahan mad’unya sekaligus bertindak sebagai pembina mental, spritual, dan (bahkan) jasmani mad’unya. Peran ini relatif tidak ada pada diri seorang muballigh. Karena itulah, mencetak murobbi sukses lebih sulit daripada mencetak muballigh sukses....:-D

Siapa mau jadi Murobbi??? angkat jempolnya...:-D

Nah tiba-tiba muncul lagi dah tu pernyataan...."Aku mau sih jadi Murobbi...tapi......"
TAPI APAAAA...???? (siapkan alasan sekarung sampah...LOL)
Biasanya nih ya ada beberapa hal yng sering dijadikan kendala seseorang buat menjadi Murobbi, apaan? periksa dah....salah satunya ada dibawah ini....hehhe

1.      Kendala kemauan
Apaan? ialah kendala berupa belum munculnya kesadaran dan motivasi yang tinggi dari sebagian kita untuk menjadi murobbi. Apa sebabny??? biasanya sih disebabkan belum tahu pentingnya murobbi, belum percaya diri untuk menjadi murobbi, atau karena tidak menganggap prestisius peran murobbi dalam masyarakat.

2.      Kendala kemampuan
Kalau kendala ini berupa minimnya pengetahuan dan pengalaman menjadi murobbi. Memang, menjadi murobbi membutuhkan berbagai kemampuan yang perlu terus ditingkatkan. Beberapa kemampuan yang perlu dimiliki, misalnya pengetahuan agama, dakwah, pendidikan, organisasi, manajemen, psikologi, dan lain-lain.
Kemampuan ini masih terbatas dimiliki oleh kebanyakan umat. So?? ya belajar geh....masak sih mau aja jadi muslim kudet eheheh #No!

3.      Kendala kesempatan
Nah yang ini berupa kendala karena ketiadaan waktu dan kesempatan untuk menjadi murobbi. Kehidupan dunia yang penuh godaan materi ini membuat orang terlena untuk mengejarnya, sehingga tak punya waktu untuk memikirkan hal-hal yang strategis. Termasuk di dalamnya tak punya waktu untuk serius menjadi murobbi. Padahal keberlangsungan eksistensi umat sangat tergantung pada keberadaan murobbi-murobbi handal.  betul???

Nah sekarang nih ya ambil tuh parang, terus tebas habis dah itu kendala-kendala yang ada...hehehhe kita mulai berlatih,,,mulai mempunyai kemauan dalam diri kita, diniatkan lurus semata-mata untuk mendapat Ridho Allah SWT, niat untuk mencetak generasi-generasi Islam yang unggul, (bukan cuma di KaTePe doang), bukan buat mau pamer atau keren-kerenan...trs kalau udah ada kemauan. nah siapkanlah tu kemampuannya untuk menjai Murobbi,,gimana caranya? ya gampang banget...."kalau kita mau jadi guru, ya bagusnya kita juga punya guru, sebagai pembelajaran" #mikir..LOL.
Nah kalau sudah kemauan MANTAB, terus kemampuan udah ada (gak perlu nunggu jadi profesor untuk menjadi guru), nah sisihkanlah waktu untuk menyalurkan ilmu-ilmu agama yang kita dapat itu....yaa paling gak cukup "One Hour One Week" lah...masa sih gak bisa...#AmalanYangGakAkanPutus.

Nah beres dah, tinggal jalani dah...siapa tahu kita termasuk orang yang beruntung untuk mejadi Murobbi yang sukses itu, heheh
Nah terus “Gimana tips-tips sukses jadi Murobbi???"
Ok, Check This Out, Now!!!
berikut beberapa tips sukses menjadi Murobbi dari buku yang ane sebutkan di atas,,,
(Semangat berdebu-debu...eh menggebu-gebu)

1. PERSIAPAN
Yang perlu diperhatikan untuk sukses menjadi Murobbi yang pertama adalah dari persiapan kita...Nah Ancang-ancang nya musti pas ini...tanya kenapa??? karena dalam segala hal itu...persiapan yang matang InsyaAllah akan menghasilkan hasil yang maksimal jg....nah kalau persiapannya aja ala kadarnya,,,ya...bisa dikira-kira lah ya hasilnya...:-D
jadi apa aja sih yang musti disiapkan...?

·        Luruskan Niat
Nah hal yang pertama harus dilakukan sebelum melakukan tips-tips yang lain ialah meluruskan niat kita, kenapa???
Niat merupakan pangkal diterimanya amal. Percuma dong kita beramal kalau niat tidak ikhlas....udah capek-capek pula. Jadi balik lagi tuh kita luruskan niat kita dalam menjadi Murobbi semata-mata ikhlas karena Allah SWT. Buang jauh-jauh dah niat selain ingin populer, ingin mendapatkan pengikut, ingin mengisi waktu luang, ingin dipuji oleh orang lain, atau ingin pamer...apalagi ingin mendapatkan uang! No !!! Kelaut aja lu...!

·        Siapkan materi
Ini nih salah satu kebiasaan buruk murobbi yang sering dijumpai adalah tidak mempersiapkan materi. Nah padahal Shakespeare (Penyair Inggris) pernah mengingatkan, “Barangsiapa naik panggung tanpa persiapan, ia akan turun panggung dengan kehinaan”...nah kebayang gak tuh...?
So, persiapkanlah materi yang akan di sampaikan di halaqah. Persiapkan walau hanya sebentar (10-15 menit lah pemanasan...). Lah terus apa yang mau disiapkan..??? yah misal dalil naqli (dalil dari Al Qur’an dan Hadits) dan aqli (dalil secara rasional) yang berhubungan sama materi yang akan disampaikan, data dan fakta terbaru, ilustrasi dan perumpamaanny, contohnya dalam kehidupan, atau apalaah....pokoknya cari yang bisa membuat materi yang akan kita sampaikan itu menarik dan bisa diserap sama Mad'u...  Ok?? jadi jgn spontan uhuyyy...#iklan

·        Catat apa yang akan dibicarakan dengan mad’u
Selain mempersiapkan materi, hal yang perlu di persiapkan sebelum mengisi halaqah adalah mencatat apa yang akan  dibicarakan dengan mad’u. Misalnya, mencatat apa saja yang akan dievaluasi, apa saja informasi dan instruksi yang akan disampaikan, atau siapa yang akan Anda ajak bicara tentang sesuatu hal. buat apaa..??? ya biar kita ingat apa yang akan kita bicarakan dengan mad’u. Apalagi kalau berhubungan dengan hal-hal penting....misal nih undangan Tasqif,etc...(Apa itu tasqif?? #cariDewe LOL)

·        Persiapkan fisik Anda
"Sesungguhnya badanmu memiliki hak atas dirimu" (HR. Bukhari dan Muslim).

Lah, apa hubungannya fisik dengan murobbi??? (Emangnya mau tanding bola apa?)
Persiapan fisik bukan berarti kita sebagai murobbi harus gagah dan kekar seperti Ade Rai (seorang binaragawan) atau lemah gemulai seperti Cleopatra (ratu cantik dari Mesir Kuno) lhoo.... Tapi yang dimaksud persiapan fisik disini adalah seorang murobbi harus sehat dan segar, terutama menjelang mengisi halaqah. Jika tampangnya aja udah lesu,lemah,lelah,letih dan tak bertulang (Lebay.com) saat mengisi halaqah, so pasti bakal berdampak dong pada suasana halaqah yang  lesu seperti tampang itu....:-D  Awas lho ntar Mad'u bisa2 malah tertular lesu,,atau malah ketiduran,,atau lebih parahnya lagi kabur dah tu...LOL.
So, sebelum ngisi halaqoh...persiapkan dulu fisik kita, minimal bisa lah tidur dulu 30 menit jadilah...hehehe, Next!

·        Tingkatkan kepercayaan diri
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS.  3 : 139).

Persiapan materi dan persiapan fisik tak akan banyak berarti kalau kita minder waktu mengisi halaqah. Semua yang mau kita sampaikan jadi buyar...terbang entah kemana #sokpuitis... Rencana jadi berantakan. Memang, kepercayaan diri yang tinggi amat penting ketika kita ingin berbicara di depan banyak orang. Bahkan kepercayaan diri yang tinggi dapat menutupi kekurangan kita (seperti tidak siap materi atau kelelahan fisik)... 
So, tingkatkan kepercayaan diri kita, terutama sebelum mengisi halaqah. Caranya dengan banyak mengingat-ingat kelebihan dan prestasi kita, membayangkan kesuksesan yang akan kita dapatkan, meyakini bahwa kita lebih baik dari apa yang kita kira, dan meyakini bantuan Allah kepada orang-orang yang berdakwah...Allahu Akbar..!!!
Kalau di tengah-tengah kita mengisi halaqah nih, eh tiba-tiba muncul perasaan gugup dan minder, buang jauh-jauh dah pikiran itu...(Kelaut dah sono...!!). Yakinlah bahwa hal itu merupakan godaan syetan....#INGAT syaitan ada dimana-mana bro,,jd waspadalah 3x (kayak bang Napi)

·        Belajarlah jadi murobbi dengan mad’u yang tingkatannya lebih “rendah"
Dari buku yang pernah ane baca nih (tersebut di atas tadi lho), ada satu tips yang dapat dilakukan jika kita merasa tidak PeDe membina. Apa? Latihlah kepercayaan diri kita dengan membina halaqah yang derajatnya lebih “rendah”. Misal nih, kalau kita mahasiswa dan belum PeDe membina mahasiswa, tangani lebih dulu anak-anak SMU. Kalau belum PeDe juga, cari mad’u yang lebih rendah lagi, yakni anak-anak SMP. Kalau itu pun belum PeDe, cari mad’u anak-anak SD....
Nah...kalau nanti udah PeDe menangani mad’u yang derajatnya lebih “rendah”, baru mencoba menangani mad’u yang derajatnya “sama” (misalnya sesama mahasaiswa). Bahkan jika PD sudah prima, Anda bisa menangani mad’u yang derajatnya lebih “tinggi” daripada kita. Misal, membina lulusan sarjana atau menangani para eksekutif....yo ora opo-opo lek wes wani dan mumpuni :-D
So, latihlah terus PeDe kita berangsur-angsur, Insya Allah Anda akan menjadi murobbi yang PeDe membina.....Aaammiiinn

·        Siapkan materi cadangan
Ibarat tentara yang mau berperang nih, membawa senjata cadangan. Murobbi juga perlu demikian. Kita sebagi murobbi perlu menyiapkan materi cadangan. Mengapa? Kadangkala kondisi halaqah tidak sesuai dengan yang kita bayangkan.
Misal nih, Kita berharap semua mad’u hadir tapi ternyata yang hadir hanya segelintir, sehingga kita merasa sayang kalau memberikan materi tanpa didengar oleh semua mad’u. Atau bisa jadi waktu kita ngobrol dengan mad’u sebelum acara halaqah dimulai, eh ternyata ada masalah mendesak yang perlu segera diberikan solusi melalui taujih (pemberian materi). Atau karena sesuatu hal, waktu kita menyampaikan materi menjadi sangat sempit.... Nah! pada saat-saat seperti itu materi yang kita siapkan tadi mungkin kurang relevan lagi untuk disampaikan, so kita perlu menyampaikan materi lain yang lebih cocok dengan perubahan situasi halaqah yang mendadak tadi. Jadi di sinilah pentingnya kita menyiapkan materi cadangan itu tadi....betul??

·        Simpan stock materi seperti dokumen berharga
Bagaimana agar kita menjadi murobbi yang kompeten di mata mad’u? Salah satu caranya adalah mempunyai stock (persediaan) materi yang banyak, sehingga tidak terkesan kita “kehabisan” materi.
Biasanya, murobbi mendapatkan materi secara estafet dari struktur dakwah di atasnya. Nah…kalau kita mendapatkannya, simpan materi dengan baik layaknya dokumen berharga...kalau perlu dicopy-in dah tu...atau di simpan di tempat khusus....Nah sebaiknya, stock materi tadi itu disimpan dalam file-file sesuai dengan urutan pokok bahasan atau jenjang halaqah, jadi pas kita membutuhkannya gampang carinya...:-D

·        Sabarlah terhadap proses perkembangan mad’u
Sebagai murobbi, kita harus mempunyai stock (persedian) sabar yang banyak.... terutama sabar terhadap proses perkembangan mad’u. Sebab kalau tidak sabar, kita akan cepat kecewa, stres, dan uring-uringan sendiri melihat berbagai polah mad’u yang seringkali tidak sesuai dengan harapan kita.... jadi inget, HARUS SABAR! jangan mudah putus asa! Jangan Pesimis (Penyakit Si Miskin itu)! Apalagi sampai memecat si do'i dari halaqah.....jangan sampai dah...susah lho cari orang yang mau ikutan halaqah itu....:-(
Karena itu, sabarlah terhadap proses perkembangan mad’u. Jangan cepat menyimpulkan dan jangan cepat putus asa terhadap mad’u yang terlihat lambat berubah.....Keep Hamasah!!!!

·        Beri angka 10 di dahi mad’u
Kamu adalah umat terbaik yag dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (QS. 3 : 110)

Apa maksudnya? Apakah maksudnya mencoretkan angka 10 di dahi mad’u dengan spidol???
Oh No, tentu bukan geh....
Maksudnya, kita selalu membayangkan mad’u dengan pandangan optimis bahwa mereka akan menjadi orang-orang besar kelak. Kita optimis mereka akan menjadi orang-orang sukses di kemudian hari. Kita yakin mereka akan berubah lebih baik lagi. Angka 10 melambangkan optimisme kita yang besar terhadap mereka...:-D
Sebagai murobbi kita harus yakin mad’u lebih banyak kelebihannya daripada kekurangannya. Kita harus optimis mereka akan berhasil dibina. Kita harus yakin mereka bukanlah sembarang orang, tapi calon pemimpin bangsa dan umat. Sikap optimisme ini akan mempengaruhi perilaku kita ketika membina mereka. Sebab dari buku yang ane baca,,menurut pakar kepemimpinan, "jika pemimpin ingin merubah orang mulailah dari perubahan paradigma terhadap orang tersebut. Jika pemimpin memiliki paradigma bahwa orang yang ia bina dapat berubah, maka orang tersebut akan berubah sesuai dengan apa yang ia persepsikan. Sebaliknya, jika seorang pemimpin pesimis anak buahnya akan berubah menjadi lebih baik, maka seperti itulah yang akan terjadi."
So, beri angka 10 pada dahi mad’u , bukan angka 6. Selalau yakin dan optimis terhadap perubahan mad’u ke arah yang lebih baik lagi, :-D

·        Yakin akan sukses membina
Kami percaya bahwa tabir yang memisahkan antara kami dan keberhasilan hanyalah keputusasaan” (Hasan Al Banna).
Keberhasilan itu berawal dari pikiran. Kalau kita berpikir akan gagal maka kegagalan akan datang di pelupuk mata. Sebaliknya, kalau kita berpikir akan sukses maka kesuksesan akan menjelang. Rasulullah saw adalah murobbi yang yakin akan sukses membina. Ia tidak pernah merasa pesimis membina mad’unya. Sejarah mencatat Rasulullah saw berhasil mencetak orang-orang terbaik sepanjang masa.
Kita bisa bayangkan, bagaimana orang buta seperti Abdullah Ummu Maktum ra, orang yang cacat seperti Abdulah bin Mas’ud ra, dan orang yang dianggap hina, seperti Bilal bin Robbah ra, dapat tumbuh berkembang menjadi orang-orang terbaik di masyarakatnya. Semua itu tak bisa lepas dari keyakinan Nabi, sebagai murobbi, bahwa ia akan sukses membina mad’unya.
So, jangan sepelekan keyakinan akan sukses sebelum kita sukses membina. Kita perlu menanamkan keyakinan tersebut dengan kuat di hati sanubari Kita. Hilangkan keraguan-keraguan akan sukses. Semakin kita yakin, semakin besar peluang kesuksesan kita. Why? Karena keyakinan, disadari atau tidak, mengubah sikap dan perilaku kita.
Sukses..! Sukses..! dan Sukses...!!!

To Be Continue....tangan ane udah keriting,,,tunggu postingan selanjutnya...:-D




0 comments:

Post a Comment

You are number :

It's me

My Photo
oya'
I was an architectural engineering student at Sriwijaya University...Simple.My greats inspiation is my family. One word from me, time is not limited, but our time is limited. So,do the best we can..!!
View my complete profile

Copyright © 2012 my sketchesTemplate by :Urangkurai.Powered by Blogger.Please upgrade to a Modern Browser.